2003

Empat tokoh masyarakat terpilih sebagai penerima Bung Hatta Anti Corruption Award karena dinilai memiliki kredibilitas tinggi dalam memerangi korupsi.

Keempat nama itu, untuk kategori masyarakat madani adalah Karaniya Dharmasaputra (Redaktur Majalah Tempo), pemerintahan Moh Yamin, SH (Kepala Pusdiklat Kejaksaan Agung), dan Syamsul Qomar (Hakim Pengadilan Negeri Langsa Aceh Timur).

Sedangkan untuk kategori bisnis yaitu Erry Riyana Hardjapamengkas (Dirut PT Timah Tbk 10 Maret 1999-14 Maret 2002).

Calon yang masuk memang atas rekomendasi perorangan atau lembaga. Oleh karena itu masyarakat dimungkinkan untuk protes karena mungkin banyak kandidat lain yang lebih layak tapi tidak direkomendasikan, ujar Teten Masduki.

Teten termasuk sebagai anggota dewan pendiri Perkumpulan Bung Hatta Anti Corruption Award di Jakarta kemarin.

Sejumlah 27 nama yang dicalonkan dinyatakan mememuhi sarat untuk mengikuti proses penjurian. Untuk menjaring calon-calon tersebut, Bung Hatta Anti Corruption Award telah menyebar ratusan surat permintaan calon.

Surat sudah kami layangkan ke sejumlah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan instansi pemerintah. Namun respons dari instansi pemerintah ini memang agak kurang, ujar Tini Hadad wakil direktur program pemulihan masyarakat di bawah UNDP yang tercatat sebagai salah seorang juri.

Selain Tini masih ada 8 juri lain yang mewakili komunitasnya. Dari kalangan pemerintah diwakili oleh Harkristuti Harkrisnowo, Nini K. Maramis dan Komarudin Hidayat.

Sedang dari kalangan bisnis diwakili oleh Humayunbosha Somiadiredja, Betty Allisjahbana dan Fred TG. Tumbuan. Juri dari kalangan masyarakat madani diwakili oleh Faisal H. Basri, Antonius Sujata dan Tini Hadad.

Melalui konfirmasi

Dari hasil penelusuran dewan juri, terutama melalui konfirmasi kepada pihak-pihak terkait dan document trial utamanya pemberitaan media masa, diputuskan empat nama yang berhak menerima penghargaan tersebut.

Menurut pandangan dewan juri yang dibacakan oleh Betty Alisjahbana selaku pimpinan, Karaniya dianggap berjasa karena pengungkapan sejumlah kasus korupsi di media massa.

Beberapa tulisan Karaniya yang dinilai tajam dalam mengungkap korupsi antara lain tentang kasus Buloggate 1, Buloggate 2, tentang mafia peradilan.

Dari kalangan pemerintahan muncul nama Moh. Yamin yang saat ini menjabat sebagai Kepala Pusdiklat Kejakgung. Yamin dianggap layak menerima penghargaan tersebut karena keterlibatannya dalam sejumlah kasus besar yang sempat mencuat di publik seperti kasus Edi Tansil, kasus Texmaco dan kasus Nurdin Khalid.

Selain Yamin muncul nama lain seperti Syamsul Qomar yang saat ini menjabat sebagai Hakim Pengadilan Negeri Langsa Aceh Timur.

Nama Syamsul mengemuka beberapa waktu lalu karena keberaniannya menjatuhkan hukuman seumur hidup pada kasus tindak pidana korupsi.

Terakhir, Erry Riyana Hardjapamekas, mantan direktur PT Timah Tbk sebagai pemenang dari kalangan Bisnis. Erry dianggap berjasa dalam memelopori good corporate governance di lingkungan kerjanya.

Menurut Teten, pengadaan award semacam ini ditujukan untuk memperluas dukungan masyarakat bagi gerakan anti korupsi.

Kami juga berharap dapat menelurkan optimisme di kalangan publik bahwa masih banyak orang-orang baik di bumi Indonesia ini, katanya.

Menurut rencana, award yang baru pertama kali diadakan ini akan diserahkan kepada para pemenang pada tanggal 30 September 2003 nanti di Aula Serbaguna Senayan. (m8)

Sumber: Bisnis Indonesia, Selasa, 16-SEP-2003

Leave a Reply