Hubungi Kami
Kawan Bung Hatta

Kawan Bung Hatta Labuhanbatu Menggelar Diskusi Musikalisasi Antikorupsi di Unisla

LABUHANBATU – Diskusi Musikalisasi Anti Korupsi yang ditaja di Universitas Islam Labuhanbatu (Unisla), Rabu (4/3/2020) berlangsung riuh penuh semangat. Bertubi-tubi permohonan pertanyaan dari puluhan mahasiswa dan dosen Unisla dijawab Muhammad Q Rudhy, pegiat anti korupsi dari Perkumpulan Hijau sebagai Keynote Speaker (Pembicara Utama).

Tak hanya dari Perkumpulan Hijau, salah satu komunitas lingkungan, kegiatan ini juga didukung komunitas Pegiat Anti Korupsi, Kawan Bung Hatta Kelompok Penikmat Musik Rumahan (PMR) dan Apajake, di Aula Unisla.

Sambil dialuni musikalisasi, suasana diskusi lebih santai tetapi tetap serius. Beberapa lagu hits pun dibawakan PMR tetapi tetap dalam tema anti korupsi, diselingi dengan pengenalan sosok Bung Hatta selaku tokoh nasional yang dinilai anti korupsi. Usai pembukaan, diskusi bertahap semakin serius membahas persoalan bahaya leten korupsi hingga tiga jam menyangkut “Peran Mahasiswa Dikorupsi”.

Muhammad Q Rudhy, pegiat lingkungan hidup dari Perkumpulan Hijau yang menjadi pemateri tunggal, menegaskkan, bahwa mahasiswa adalah kelompok masyarakat sipil terpelajar yang sangat berperan penting dalam upaya mengawal pemerintahan yang bersih.

“Mahasiswa seharusnya menjadi kelompok sipil terpelajar yang terus berpikir kritis dan vocal menyuarakan anti pemerintahan yang korup. Namun, disisi lain, mahasiswa juga harus mampu menjadikan kampus sebagai rumah kelompok sipil terpelajar sebagai wilayah yang bersih dari prilaku korup,” tegas Rudhy.

Ditambahkannya, momen politik di daerah juga bisa menjadi momentum bagi mahasiswa untuk bergerak dan berperan aktif mengkampanyekan kepada masyarakat pemilih agar tidak memilih pejabat korup. Hal ini didasarkan pada temuan Indonesia Corruption Watch (ICW) tahun 2019, yang menempatkan kasus korupsi tertinggi terjadi di Lembaga pemerintahan kabupaten/kota, dengan modus korupsi tertinggi terjadi pada kasus suap.

“Masa (pilkada) ini momentum yang sangat baik bagi kita untuk menegakkan lagi pemerintahan yang bersih di Kabupaten Labuhanbatu, khususnya. Peran mahasiswa sangat penting pastinya, karena selain sebagai kelompok masyarakat sipil terpelajar, juga sebagai kelompok independen yang tidak bisa di intervensi secara politik. Mengkampanyekan pemilu bersih dari suap atau politik uang secara masif, bisa menjadi salah satu treatment yang dibangun oleh mahasiswa ke kandidat dan penyelenggara,” tegas Rudhy, yang juga menyinggung kasus Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang terjadi di kabupaten Labuhanbatu beberapa hari lalu.

Sebagai contoh, tambahnya, kasus sudah kritisnya prilaku korup di dalam pemerintahan Kabupaten Labuhanbatu. Dalam pemaparannya, Rudhy juga menyinggung perihal dampak buruk dari prilaku korup yang menyebabkan rusaknya tatanan sosial, ekonomi dan politik Indonesia termasuk menuntun bangsa ini ke arah krisis demokrasi.

“Korupsi tidak hanya berdampak pada satu aspek, namun semua aspek secara langsung. Pemerintahan korup akan menghasilkan krisis demokrasi. Jika sudah sampai pada krisis demokrasi, maka bangsa ini sudah menjadi penjara bagi rakyatnya sendiri. Kemerdekaan akan hilang dan apa gunanya kita setiap tanggal 17 Agustus memperingati hari kemerdekaan,” uangkapnya.

Sementara itu, kegiatan yang mendapat sambutan positif oleh puluhan mahasiswa dan dosen Unisla ini ditutup dengan sesi tanya jawab, serta musikalisasi oleh kelompok Penikmat Musik Rumahan dengan lagu penutup “Bongkar” yang dipopulerkan oleh Iwan Fals.

 

Artikel pertama kali terbit dengan judul “Lawan Korupsi! Rudhy Jadi Keynote Speaker di Hadapan Dosen dan Mahasiswa Unisla” tanggal 5 Maret 2020.

Acara, Berita, Kawan Bung Hatta

Temu Nasional Alumni Panitia Bung Hatta Tour 2014 – 2019

Pada tanggal 8 – 11 Juli 2019, Perkumpulan Bung Hatta Anti-Corruption Award (P-BHACA) telah menyelenggarakan kegiatan Temu Nasional Alumni Panitia Bung Hatta Tour 2014 – 2019 dengan melibatkan 29 aktivis anti-korupsi yang tersebar di 25 perguruan tinggi, 3 organisasi dan 1 SMK pada 22 kota se-Sumatera, Jawa, Madura, Bali, Kalimantan dan Sulawesi. Bung Hatta Tour sendiri merupakan sebuah kegiatan pendidikan anti-korupsi yang dikemas dalam bentuk diskusi musikal sejak tahun 2014. Sebagai peserta kegiatan yaitu panitia yang membantu menyukseskan rangkaian tour tersebut.

Temnas ini bertujuan untuk melakukan konsolidasi dan menjalin sinergitas gerakan anti-korupsi dari berbagai perguruan tinggi dan daerah serta menjaga tali silahturahim antar alumni panitia diskusi musikal anti-korupsi.

Dibuka secara resmi oleh Ibu Sharmi Ranti, Sekretaris Dewan Pengurus P-BHACA pada Senin (8/7) malam. Dalam sambutannya, Sharmi mengajak semua peserta kegiatan untuk menjadikan kegiatan tersebut wadah belajar dan berjuang. Menurutnya, anti-korupsi dimulai dari sikap.

“Nilai-nilai anti-korupsi dimulai dari sikap, jangan mudah menyerah terhadap tekanan. Katakan yang benar untuk hal yang benar, tidak untuk tidak,” paparnya.

Sharmi menghembuskan harapan agar kegiatan ini dapat menjadi sebuah gerakan nasional. “Mudah-mudahan dimulai dari pertemuan ini dapat menjadi jaringan anti-korupsi yang menyebar dari Sabang sampai Merauke.”

Kegiatan ini berbentuk diskusi kelompok dan pleno yang mencoba memotret isu pemberantasan korupsi di Indonesia dan beragam isu sosial kemasyarakatan lainnya. Selain itu pula mengangkat bagaimana tantangan gerakan anti-korupsi yang dilakukan para aktivis anti-korupsi di berbagai daerah antara lain: Aceh, Padang, Lampung, Bukittinggi, Labuhan Batu, Bandung, Jember, Yogyakarta, Salatiga, Semarang, Cirebon, Surabaya, Madura, Malang, Bali, Pontianak, Banjarmasin, Samarinda, Palangkaraya, Tarakan, Gorontalo, Kendari, dan Makassar yang hadir dalam temnas ini.

P-BHACA juga menghadirkan para narasumber yang mumpuni di bidangnya, yaitu Erry Riyana Hardjapamekas (eks Wakil Ketua KPK & Peraih BHACA 2003), Adnan Topo Husodo (Koordinator Indonesia Corruption Watch), Natalia Soebagjo (co-founder P-BHACA), Giri Suprapdiono (Direktur Dikyanmas KPK), Judhi Kristantini (Koordinator Saya Perempuan Anti Korupsi), Ainun Chomsun (Pendiri Akademi Berbagi), Akhmad Agus Fajari (Koordinator Sekretariat Nasional Jaringan GUSDURian), dan Ratna Pandjaitan & Yayoe Pribadi (eks Tim Komunikasi Europalia).

Secara keseluruhan kegiatan temu nasional berjalan dengan lancar dan dinamis karena semua pihak berpartisipasi aktif. Diakhir kegiatan, kami merampung beberapa rencana tindak lanjut untuk membumikan isu korupsi dan gerakan antikorupsi sekembalinya ke tengah kampus, sekolah, organisasi, maupun masyarakat. Kami juga membentuk sebuah jaringan komunikasi antikorupsi bersama yang disebut “Kawan Bung Hatta.”

Temnas ini secara resmi ditutup oleh Ibu Shanti L Poesposoetjipto, Ketua Dewan Pengurus P-BHACA, (10/7). Turut hadir Ibu Halida Hatta, putri Bung Hatta pada malam keakraban sembari menyantap makan malam, menyaksikan api unggun dan menikmati suguhan musik dan lagu dari band Simponi & Sisters In Danger.

Sebagai tambahan informasi, hingga tahun ini, Bung Hatta Tour telah menjangkau 48 kampus dan sektiar 12.000 mahasiswa yang menjadi peserta mendapatkan informasi tentang teladan Bung Hatta, apa dan dampak korupsi, siapa pelaku dan korban korupsi, dan berbagai informasi lainnya dari sekretariat P-BHACA yang didukung oleh pimpinan KPK, LSM anti-korupsi, keluarga Bung Hatta, dan musisi. Akhirnya, kami mengucapkan banyak terimakasih atas semua pihak yang telah membantu menyukseskan kegiatan ini.

Acara

Ayo Ngobrol Antikorupsi Bareng BHACA dan detikcom di Kampus Kamu!

Maraknya korupsi bikin miris. Semangat antikorupsi harus makin kencang digaungkan termasuk di lingkungan kampus.

Bersama Perkumpulan Bung Hatta Anti-Corruption Award (BHACA), detikcommenyambangi sejumlah kampus untuk ikut menggaungkan semangat dan tindakan antikorupsi.

detikcom memberi perhatian serius agar gerakan antikorupsi bisa terwujud.detikcom ikut mengawal gerakan antikorupsi agar bukan sekadar suara, tapi juga tindakan nyata.

Karena itu, lewat BHACA roadshow Jawa, Madura serta Bali, detikcom ikut terlibat mengisi materi. BHACA sudah menyiapkan nara sumber kredibel yang bisa diajak berdiskusi. Ada Ketua KPK Agus Rahardjo, Wakil Ketua KPK Saut Situmorang, Alexander Marwata dan Laode M Syarif serta pihak lainnya yang terlibat aktif di kegiatan ini.

Selain itu, kamu juga bisa tanya jawab mengenai dapur detikcom terkait pemberitaan kasus-kasus korupsi. Mulai dari pola peliputan hingga bagaimana mengemas berita agar pesan lawan korupsi sampai ke publik.

Yang pasti obrolan gerakan antikorupsi ini dikemas ringan tapi tetap berbobot lewat konsep diskusi musikal. Jadi, jangan melewatkan momen ini dan tunggu kami di enam kampus ini:

1. Erna Mardiana (Kepala Biro Jawa Barat detikcom) di Institut Teknologi Bandung-7 September

2. Erwin Dariyanto (Wakil Kepala Departemen Riset dan Desain) di Universitas Diponegoro, Semarang-12 September

3. Ferdinan: Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Salatiga-14 September

4. Bagus Kurniawan (Kepala Biro Jawa Tengah dan DIY) di Universitas Gadjah Mada-17 September

5. Irwan Nugroho (Redaktur Pelaksana DetikX) di UIN Malang-19 September

6. Elvan Dany Sutrisno (Wakil Pemimpin Redaksi detikcom) di Universitas Udayana-27 September

Donasi